
Jakarta Timur, rumahsehatalfian.com – Dalam rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Program Studi Dharma Usada Institut Nalanda angkatan 2023–2024 turut menggelar kegiatan Outcome-Based Education (OBE) bertajuk “Meningkatkan Soft Skills dan Hard Skills Mahasiswa” pada Jumat (8/5/2026) di Lembaga Kursus dan Pelatihan Kampung Sehat Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan pembelajaran langsung mengenai praktik pengobatan tradisional, mulai dari jamu, tui na, hingga moksibusi.
Kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan yang dihadiri mahasiswa, dosen, serta praktisi kesehatan tradisional. Dalam sambutannya, Kepala LKP Kampung Sehat Indonesia sekaligus Kaprodi Dharma Usada Institut Nalanda, R.M. Alfian., Br.M., S.Tr.Kes., S.T., S.Ud., B.Med, M.Si, menegaskan pentingnya pendidikan berbasis praktik lapangan untuk membentuk lulusan yang kompeten dan profesional. “Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di kelas. Mereka harus melihat langsung bagaimana pelayanan kesehatan tradisional dijalankan secara profesional, mulai dari standar pelayanan, teknik terapi, hingga etika praktik kepada pasien,” ujar Alfian.

Pada sesi pertama, mahasiswa mendapatkan materi mengenai SOP Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia, pembahasan proses menuju STPT, serta praktik pembuatan jamu tradisional. Materi tersebut memberikan pemahaman tentang standar legalitas, tata kelola pelayanan, dan pentingnya menjaga mutu praktik kesehatan tradisional di Indonesia. Sesi berikutnya dilanjutkan dengan Bedah Buku Ilmu Dasar Praktik Tui Na yang juga dipandu langsung oleh Alfian. Dalam sesi ini, mahasiswa diperkenalkan pada dasar-dasar terapi tui na sebagai salah satu metode terapi manual dalam pengobatan tradisional Timur. Selain teori, peserta juga mengikuti praktik dasar teknik tui na untuk memahami penerapan terapi secara langsung.
Puncak kegiatan berlangsung saat mahasiswa mengikuti Praktik Pengenalan Lapangan di Rumah Sehat Alfian (RSA). Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melihat langsung berbagai fasilitas dan ruangan pelayanan kesehatan tradisional yang tersedia di RSA. Mahasiswa juga menyaksikan sekaligus mempraktikkan teknik dasar moksibusi dan tui na sebagai bagian dari penguatan kompetensi lapangan. Menurut Alfian, pengalaman praktik langsung menjadi bagian penting dalam implementasi OBE agar mahasiswa memiliki kesiapan kerja yang lebih baik setelah lulus. “Melalui praktik lapangan ini, mahasiswa dapat memahami kondisi nyata pelayanan kesehatan tradisional. Mereka belajar tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga komunikasi, observasi, dan tanggung jawab profesi,” katanya.
Salah satu peserta kegiatan, Yansone Suhendry, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sangat bermanfaat melalui kegiatan tersebut. “Kami bisa melihat langsung bagaimana praktik pelayanan kesehatan tradisional dilakukan secara profesional. Praktik tui na dan moksibusi juga membuat kami lebih memahami materi yang selama ini dipelajari di kelas,” ungkap Yansone. Kegiatan OBE ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa Dharma Usada Institut Nalanda, baik dalam aspek akademik maupun keterampilan praktik, sehingga mampu menjadi tenaga kesehatan tradisional yang adaptif, profesional, dan siap menghadapi kebutuhan masyarakat. (Kel)





